Categories
Uncategorized

Matur nuwun, Disbud Bantul untuk Workshop Naskah Sandiwara Radionya

Beberapa waktu lalu ndilalah saya ketiban pulung. Bisa mengikuti workshop yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul. Ndilalah lagi, workshopnya babagan Naskah Sandiwara. Lebih mengerucut lagi untuk sandiwara radio. Salah satu yang saya tertarik namun masih sebatas tertarik. Belum sampai yang berusaha dan berprihatin ria. Sungguh sangat durhaka ­čÖü

Oke. Long short storyne jadi gini. Saya ikut, saya datang, dan saya belajar. Belajar banyak banget dari acara workshop tersebut. Pembimbing di workshop kemarin adalah Prof Minto dan Bu Maria. Kalau Bu Maria saya sudah sering dengar nama beliau, namun Prof Minto masih asing untuk saya. Namun demikian ternyata ya ndak asing-asing sekali karena beliau ini jebulane penggiat sastra di Jogja dan kebetulan kenal dengan salah satu teman bekerja juga. Eladalah.

Bu Maria Kadarsih membimbing kami dalam hal penulisan dan bagaimana membuat sebuah sandiwara radio menjadi runut dan runtut. Lebih dari itu, beliau juga memberikan kami para peserta workshop ini dengan beberapa trik dan tips merangkai naskah sandiwara khususnya sandiwara radio. Seorang pembuat naskah sandiwara radio diharapkan mempunyai kerangka berpikir dan mengarang cerita dengan baik dan benar karena sandiwara radio berbeda dengan pertunjukan sandiwara. Pendengar sandiwara radio sangat perlu digiring imajinasinya supaya mendapatkan gambaran yang diharapkan oleh si penulis, meskipun sebetulnya bisa saja seorang pembuat naskah membuat imajinasi pendengarnya buyar karena memberikan dialog yang banyak plot twistnya atau dialog yang mengambang tanpa ada lanjutan dialog berikutnya.

Bu Maria Kadarsih memberikan sebuah cara untuk membantu kerangka berpikir seorang penulis naskah sandiwara radio menjadi teratur dan baik. Beliau menggunakan cara PUT (Pikirkan, Ucapkan, Tuliskan). Menurut saya ini efektif karena sandiwara radio merupakan naskah tutur. Akan sangat membantu seorang penulis apabila selain menuliskan, juga lantas mengucapka. Titik-titik inspirasi bisa semakin maksimal karena dituturkan setiap dialog yang akan dibacakan.

Seorang pembuat naskah bisa mendapatkan ide atau cerita sebuah naskah tidak hanya dari keseharian namun juga bisa dari saduran karya sastra lain. Bisa menggunakan ide cerita dari novel, cerpen, cerkak, dll. Namun, kewajiban untuk menulis sumber dimohon sangat ditekankan karena ini salah satu hal yang sering diabaikan. Terlebih apabila mengikuti sebuah kompetisi, supaya tidak menjadikan polemik di kemudian hari, pemberian sumber saduran penting diberikan. Penggunaan kata dalam setiap dialog juga wajib menjadi sorotan. Prinsip utama sebuah sandiwara radio adalah edukasi dan hiburan, maka penting untuk memilah dan memilih kata yang sesuai. Sangat tidak diperkenankan menggunakan kata-kata kotor dan tidak layak dengar meskipun pada akhirnya nanti sandiwara radio akan disiarkan pada jam-jam malam. Pendengar radio tidak mau tersegmentasi meskipun pembuatan sandiwara radio mempunyai segmen tersendiri.

Prof Minto membeberkan sebuah sebutan untuk pembuat naskah sandiwara radio dengan si pembuat imajinasi. Betapa seorang pembuat naskah harus mampu membuat imajinasi pendengarnya membayangkan seperti yang diingankan si pembuat naskah. Hal tersebut tidak mudah apabila seorang pembuat sandiwara radio tidak memiliki cukup pengalaman dan jam terbang. Oleh sebab itu, melakukan repitisi atau pengulangan dalam belajar sangat dibutuhkan di sini.

Agaknya workshop kemarin cukup memberikan gambaran untuk otak saya yang sederhana ini dalam membuat sebuah naskah, kelak. Belajar kembali sungguh sangat mengasyikan. Matur nuwun, Disbud Bantul! Salam Budaya!

*Psst! Matur nuwun untuk tasnya juga. Tuhan Maha Baik. Memberi saya tas dan ilmu lewat njenengan semua.