Categories
Uncategorized

Sinau

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina, katanya. Iya, hingga ke negeri Cina, tapi kan sekarang ada teknologi yang nggak harus banget sampai sono tapi tetep bisa belajar apa yang dipelajari di Cina. So, here I am. Sinau piano pop. Haha.

Sinau dalam bahasa Indonesia artinya belajar. Jadi saya akan sedikit bercerita tentang kegiatan saya belajar piano pop. Oke, kenapa piano pop? Karena menarik untuk saya. opo gur kui? Kayake ora. Entahlah. Saya memang tertarik dengan alat musik, namun saat ini jangkauan saya baru itu. Jane yo pengen banget iso sinau kabeh alat musik, ning lak yo tetep sadar diri. Gitar pernah belajar ketika SMP karena salah satu sarat lulus kan harus ikut ujian seni musik dan saya memutuskan untuk menggunakan gitar sebagai alatnya, kayake arek widok liane do nganggo recorder sak kelinganku. Haha.

Masa pandemi kog tetep sinau piano? HooH, Alhamdulillah ada rejeki jadi ya ikut les sekalian. Saya les di Fermata Music Course di daerah Bibis. Saya adalah murid tertua di tempat les tersebut dengan tingkat halu yang lumayan juga. Ndilalahe kog ya pengajarnya sabar banget (Hai, Mbak Lusia dan Mbak Nur). Mereka mengajar per murid satu-satu jadi semacam les privat. Saat itu harga les saya adalah 350ribu untuk 4 kali pertemuan, Alhamdulillahnya, saya dapat tambahan 1 kali pertemuan. Mereka juga bisa visit juga loh mengajarnya, jadi kalau tertarik dan pengennya belajar di rumah, bisa banget Fermata memfasilitasi hal tersebut. Daring alias online juga mereka bisa banget. Wes lah, komplit.

Apakah hanya piano saja di Fermata? Otentu tidak. Gitar dan vokal juga ada. Untuk piano sendiri kebetulan dibagi menjadi dua, yaitu piano klasik dan pop. Diajarin baca not balok juga kalau ambil piano klasik. Khususon anak-anak menurut saya ini. Ben luwih lanyah dan mahir. Untuk waktu belajarnya, mereka bisa menyesuaikan dengan jadual muridnya, pokoke luweslah. Kabeh iso dirembug. Gitu. Saya sebagai murid tertua tentu ada anak murid termuda dong. Ya ada, usia sekitar 2 tahunan. Sudah belajar pegang tuts piano. Saya ndisik usia 2 tahun ya glumut lumpur hujan wong seneng udan-udan. Haha.

Oke, pie pisanan sinau piano? Sebetulnya ndisik ki wes nate sinau solmisasi ning ya gur reti tok ora njuk sek iso kae. Njuk kemarin pas hari pertama belajar ya langsung pegang piano untuk belajar solmisasi dan jari menghapalkan letak tuts piano. Sambil diajari beberapa teori tentang bermain piano. Hari berikutnya sudah langsung pegang lagu dan sinau mecah not. Njuk hari berikut-berikutnya ya garap lagu lagi. Gitu terus. Saking saya embuhe ya kadang beberapa pertanyaan saya ya terkesan seperti pertanyaan bodoh. Haha. Ya jenenge wae agi sinau kan, ya?

Awal sinau ya ndak sinkron antara tangan kanan dan kiri. Chord dan melodi. Ra harmonis dan sek siji ngalor sek siji ngidul. Ning sue-sue ya bisa. Belum mahir banget sampai hari ini, tapi menurut saya sudah oke. Sebagai seorang yang nggak lahir dari keluarga yang jiwa senine duwur opo meneh musisi, bisa main piano dan nggak buta sama solmisasi ki wes apik. Sampai saat ini ya belum bisa menghabiskan satu lagu dari awal sampai akhir, masih suka dipecah dan sak senenge dewe. Ning kanggoku wes oke. Oke banget. Wes iso lah setitik rongitik umuk. Hahaha. Astaghfirullah.

Alasan lain kenapa saya belajar piano adalah, ini salah satu cara saya untuk menghadiahi diri sendiri. Yes, saya menyekolahkan diri saya. saya memaksa diri saya untuk sinau hal baru, nambah jadual, keluar dari zona yang ketika waktu luang tak pakai untuk leha-leha menjadi waktu untuk belajar hal baru tentang seluk beluk piano dan cara memainkannya. Sudah ada rencana lagi mau belajar apa untuk besok-besok. Ning ya mengko ndisik. Haha. Durung wayahe. Besok-besok saya ceritani lagi J

Wes, hop! Semono ndisik kayake lehku cerito. Sesok nek kelingan tak sambung meneh.

1 reply on “Sinau”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *